Rabu, 16 Juli 2008

हिस्तोरिस salud

_SALUD_


Solidaritas Anak Jalanan Untuk Demokrasi

A.LATAR BELAKANG

”Kita adalah satu batang sapu lidi, di mana, jika kita ingin menyapu halaman, hanya dengan satu batang sapu lidi, tidak akan bisa menyeslesaikan sampah-sampah yang bertebaran. Tetapi jika satu batang sapu lidi kita ikat, dengan tali solidaritas yang kuat, maka seluruh halaman yang kotor bisa kita bersihkan bersama-sama"
( pepatah )


Di tengah menggejalanya Krisis multi-dimensi saat ini,di awali dari krisis pada tahun 1997. dan di susul terjadinya suatu rentetan permasalahan konflik sosial yang tlah terjadi pada masyarakat, serta praktik ekploitasi dalam konteks tiap-tiap penindasan yang di alami Rakyat miskin dan terus terjadi dalam sejarah penindasan secara sistematis dan terorganisir seperti penggusuran Pedagang Kaki Lima/rumah-rumah yang di anggap Liar, penangkapan(penertiban), yang cendrung dengan kekerasan dan terkadang di selesaikan tanpa ada ruang celah permasalahan(solusi) agar penyakit masyarakat miskin bisa memiliki ruang tatanan sosial yang di mana bisa di selesaikan dengan cara perdamaian dan kaum-papa mendapatkan Hak-haknya, serta melibatkan intensitas Masyarakat/warga sekitar, agar kelak ada permasalahan yang memiliki solusi, bukan dengan cara-cara kekerasan yang setiap hari terpampang jelas di wajah publik, tradisi kekuasaan Represif dengan tangan besi, bukanlah suatu tindakan yang bisa menyelesaikan masalah kemiskinan, yang tidak menyentuh inti persoalan yang di hadapi rakyat pekerja di indonesia saat ini. Pengangguran, tindak Kriminal, premanisme, yang di sebabkan tak ada lapangan kerja alternatif, atau msyarakat yang ingin membuka lapangan kerja alternaif-pun trasa sulit. Krena PEMDA-OTONOMI DAERAH cendrung lepas tanggung jawab atas permasalahan ini?

Kehadiran sebuah organisasi rakyat miskin yang menegaskan dirinya sebagai Anti-tesa terhadap kenyataan politik kekuasaan tersebut tidak bisa di tawar-tawar lagi, kerena semua itu adalah harga mati bagi sebuah eksistensi perjuangan Rakyat pekerja, dengan semangatnya, ia adalah masyarakat yang hilang atas dasar HAM serta Hak-konsistusional saat ini. organisasi yang di mana mampu mendefinisikan kebutuhan pokok dasar perjuangan rakyat miskin atas historis (sejarah) yang menakutkan untuk sadar dalam konteks ketertindasannya masing-masing, untuk melawan segala keterbatasan ruang keadilan sosial yang begitu sempit di rasakan masyarakat miskin untuk melakukan kebebasan brekpresi serta menuntut Hak-Haknya, kami hanya di ukur dari karakter permasalahan masyarakat atau penyakit masyarakat(streotip) yaitu salah satu bentuk stigma yang saat ini adalah hegemoni kekuasaan , yang nyata-nyata telah membawa rakyat indonesia dalam kondisi kemiskinan dan penderitaan hingga taraf kesadarannya sebagai manusia merdeka. Maka, tugas dari organisasi bukanlah memberi jawaban, tetapi tugasnya adalah untuk menjawab sebuah karakter sistem penindasan yang begitu dahsyat dan kultur hegemoni yang mencekram kemiskinan dan menghantui cita-cita masyarakat miskin indonesia, tugas organisasi yang melandaskan perjuangannya dalam aras-populisme (kerakyatan) adalah suatu butir untuk membebaskan pengertian populisme itu sendiri dari segala upaya pengkaburan, baik dengan kesadaran palsu maupun oleh sebuah oportunisme dan advonturisme politik hegemoni,yang mencengkram tatanan ruang kesadaran masyarakat indonesia. Membebaskanya dengan tindakan dan menempatkannya sebagai program perjuangan dan cita-cita Gerakan Rakyat Miskin Kota .
Sebagai organisasi rakyat miskin, Solidaritas Anak Jalanan Untuk Demokrasi yang di singkat (SALUD) slalu melandaskan gerakannya pada kenyataan situasi tatanan sosial yang di alami Rakyat miskin dan mendoronganya pada situasi kesadaran sosial yang selama ini tidak di sadari oleh para pemegang kekuasaan Otonomi maupun kekuasaan yang tertinggi Negara. Hal ini di lakukan kerena kami mengharapkan adanya perubahan situasi sosial yang terjadi pada rakyat indonesia saat ini, perubahan politik yang terjadi pada lengsernya soeharto pada tahun 1998 banyak masyarakat yang menginginkan adanya perubahan politik pada tahun tersebut perlahan-lahan mengaharapkan menjadi perubahan sosial. kerena pada saat itulah terjadi krisis ekonomi di mana situasi itu benar-benar menghatui sejarah perjuangan Rakyat miskin dengan kebutuhan Sembilan bahan pokok (sembako) yang mencekik leher Rakyat miskin, sangatlah di rasakan oleh Rakyat secara nasional dari Buruh/Petani/Nelayan) dan telah terjadi pada pulau-pulau(propinsi) yang konon akan kaya atas sumber daya alam (SDA) bahkan hingga saat ini rakyat miskin lupa akan sejarah-nya, kerena semuanya hanyalah sebuah propaganda di mana sistem hegemoni slama 32-tahun rezim tiran yang berkuasa. Gerakan 1998 hanya mampu mematahkan sebuah simbol tetapi tidak pada kenyataannya di mana sebuah proses sistem yang kian seperti hantu tetap menguasai kontrol atas kuasa Rakyat terus berjalan bahkan saat ini, keadilan sosial telah hilang dan tak melakat pada perjuangan rakyat miskin. Kami berani untuk menyebutkan-nya 1998” adalah sebuah kegagalan dan di sini kita coba merevitalisasi ulang bahkan dari awal, bahkan dari titik NOL, kita bersama membetuk perubahan yang berpihak pada iklim aspirasi rakyat yang termarjinalkan selama ini, semua ini adalah penegasan Rakyat bahwa upaya melahirkan indonesia yang Berdaulat-Demokratis belum lagi di mulai. Medan perjuangan yang membuka ranah Dealektika dan kebutuhan dasar perjuangan rakyat miskin bukan lagi mengharapkan pada ”reformasi-1998” yang tentu di ikuti pembiasan dan pengkaburan pesan perubahan–membutuhkan perhatian dan tindakan yang Maksimal-Radikal-Evolusioner dari kalangan element masyarakat yang mendukung perjuang rakyat miskin yang di butukan saat ini adalah suatu proses pergerakan dengan tujuan dan cara Revolusioner bukan saja untuk mengakhiri omong-kosong transisi yang di propagandakan oleh sebuah rezim yang sangat tiran dan basa-basi demokrasi kelompok Elit-politik, tapi juga untuk lebih mematrialkan masa proyeksi masyarakat bercirikan Demokrasi yang secara simultan diikuti bangkitnya masyarakat sipil indonesia.



B.SELAYANG PANDANG SALUD

Lahirnya Organisasi ini yang bekerja di bidang pendampingan Anak-Jalanan dan memperjuangkan penegakan HAM serta kultur sosial masyarakat Marjinal dalam konteks kemiskinan urbanisasi, SALUD tidak lahir begitu saja, dengan kelahirannya seperti seorang anak bayi yang baru lahir dari kandungan ibu pertiwi,setelah kami belajar untuk lebih dewasa dari situasi yang terkadang mendidik kami, SALUD digagas pada tahun 1997 dan Deklarasi pada tahun 1998 bertempat di YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) dan dibantu oleh beberapa kelompok Gerakan-98, sebagai pengamat/peninjau pada deklarasi SALUD.
Gagasan ini di awali dari beberapa Pemuda-Pemudi yang kesehariannya beraktifitas di jalanan dan se-kelompok MAHASISWA yang mendampingi Kaum- Miskin perkotaan, dari berbagai macam kasus yang menimpa pada anak-anak jalanan serta masyarakat miskin kota. Di mana mereka bisa memberikan suatu sikap dan bebas untuk berekspresi serta bebas untuk berbeda pendapat, sesuai pandangan mereka.
Di antaranya sangatlah beragam aktifitas mereka, ada yang berdagang-pemulung-joki-sekolah-kuliah-bekerja formal-hingga Guru privat musik.
Sekalipun mereka Anak-anak/Remaja/Dewasa,tetapi di sini kami saling menghargai dan mencoba mendengar Aspirasi-aspirasi mereka, di mana, diantara mereka” yang bertahan di Jalanan serta mayoritas beraktifitas di Jalanan dengan beragam profesinya, di sinilah kami terinspirasi dalam keluarga besar Kaum-Papa, untuk berserikat, wadah bersama guna mewadahi aspirasi-aspirasi yang selalu muncul secara tiba-tiba.




Perkenalan SALUD dengan YLBHI dan beberapa kelompok MAHASISWA diawali pada tahun 1998 di mulai dengan pendampingan mereka terhadap Kawan-kawan kami yang sering ditangkapi oleh Sat Pol-PP (Trantib), Linmas, Matrix, GDN sehingga Kawan-kawan kami yang sering keluar masuk dalam Trali besi Di dalam tahanan Pemda DKI, menguatkan Solidaritas dengan berbagai AKSI-Protes!!! sudah kami jalani, Hingga Mogok-makan di dalam-Sel, sudah kami lakukan.itulah sedikit dalam sejarah perjalanan yang kami tulis dalam profil ini, sebab tidak ada yang mau perduli seperti apa proses aleanasi pemerintah secara sistematis terhadap Anak/Remaja/Dewasa di jalanan agar kita ketahui permasalahan ini bersama-sama.
(maka risalah Profil ini*).

*Kesabaran, Kejujuran, Kreatifitas, Kerja-keras...
Selama ini, kami bisa bertahan selama 12-tahun?”, kami tidak ada manajemen Ekonomi, serta Seketariat, sebenarnya Fasilitas pendukung yang akan kami jadikan ajang untuk menumpahkan seluruh daya kreatifitas Anak-anak/Remaja/Dewasa, serta sebagai Sentral-Informasi, Komunikasi, dimana kami sangat mudah untuk berhubungan secara Solidaritas/Komunikatif dengan Basis, Komunitas/Anggota.
Dengan segala keterbatasan dan Tenaga yang kami miliki ini semuanya menjadi kendala bagi SALUD, tetapi apalah daya yang akan kami perbuat, sehingga sekretariat yang kami bangun di bawah kolong jembatan bersifat sementara, tetap semangat Aktifitasnya, tetap saja Penggusuran-penggusuran tidak bisa di hindarkan, walau di gusur” kami di sini tidak selalu patah semangat sebab SALUD selalu membuka hubungan kerja secara organisasi dan jaringan-jaringan kerja, sehingga kami mudah untuk bertahan dan beradaptasi dengan perubahan di lingkungan serta di luar lingkungan kami, hingga detik ini. selama kami merawat jaringan konsolidasi dengan jaringan kota/jaringan derah, kami di terima di suatu Organisasi Massa yang terdiri dari Buruh-Petani-Mahasiswa-Nelayan-Pekerja intlektual, serta aktif dalam berbagai kegiatan advokasi Kasus-kasus yang menimpa Rakyat, dalam proses ini salah satu Anggota kami di angkat menjadi penggurus Daerah menjelang berapa tahun kemudian, anggota kami yang mewakili SALUD di angkat menjadi penggurus pusat.

Mengapa Para penggagas SALUD menyadari bahwa organisasi ini harus lahir secara terpaksa di jalanan. sebab kekerasan di jalanan, tidak bisa di hindarkan.Maka pengalaman dari jalanan, kami belajar dari kegagalan, di mana selama Anggota-anggota dan pengurus sangat sering keluar masuk Penjara DEPSOS (Departemen-Sosial) Kedoya-Cipayung-Pondok Bambu, ada yang 1-2-3-4-5 hingga 10-25-kali keluar masuk dalam Trali Besi Pemda-DKI, ada 1-Bulan,ada pula yang 3-6 Bulan.
Sehingga terjadi adanya kematian di dalam sel-tahanan, serta pelecehan seksual yang sering terjadi. Lama-lama kami sempat berfikir dalam kebosanan ini, kami benci dengan permasalahan Konflik-Sosial yang kami rasakan. Semuanya adalah Permainan, sehingga kami jenuh dan tertipu oleh Rekayasa-rekayasa yang di permainkan oleh banyak kelompok serta keputusan sepihak, melihat semuanya ini adalah sebuah permainan yang di ambil sepihak. Sehingga banyak rakyat yang menjadi korban, termasuk kami rakyat jelata. Secara singkat kami berangkat dari kebutuhan untuk bergerak di dalam komunitas kami, maka lahirlah sebuah organisasi, sebagian dari komunitas SALUD, mereka adalah anak-anak Perantau, mereka datang dari seluruh penjuru Desa/Kota di indonesia ini, dari Sabang hingga marauke, Umur mereka sangatlah Muda ada yang berumur 8-tahun, di mana kami berfikir, mereka berhak untuk bermain-belajar, entah mengapa mereka tidak di beri perlindungan secara Hukum dan Hak Asasi Manusia, kembali kepada habitat permasalahan sosial kaum miskin kota, secara HAK kontitusional (Hak warga negara) Negara harus memberi kewajibannya pada masyarakat, bukan berarti kami di sini mempolitisasi Anak-jalanan, tetapi kenyataan ini menjadi inspirasi bagi kami, sehingga kami bagi-bagi tugas di mana yang dewasa. Kaka-nya 18-tahun harus mengawasi dan memberi kebijakan yang bijak pada Adik-adik-nya. Dengan Sebuah pendekatan kami kepada Kawan-kawan yang dewasa, yaitu melalui Solidaritas yang Dahsyat”, sebab kami di jalanan, harus saling menolong antar sesama.Membangun Solidaritas-inilah yang menjadi kekuatan dasar Komunitas ini, dan menjadi keluarga besar di mana semuanya harus menyadari proses persekawanan yang kami bangun, siapa lagi kalau bukan kesadaran (solidaritas) yang akan menolong kami dan yang mempersatukan kelemahan-kelemahan yang kami rasakan di jalanan, terpecah-pecah, maka dari perjalanan ini sehingga terjalin tali-persaudaraan yang sangat-erat jika terjadi datangnya sebuah permasalahan, maka kami bisa saling menolong antar sesama maupun yang lebih lemah di bandingkan kami.
Dia antara mereka datang dari desa ke kota, mereka datang dari segala latar belakangnya, tujuan mereka berbondong-bondong ke kota untuk mencari pengalaman, peluang kerja. atau permasalahan yang lainya, seperti kasus yang sering kami temui adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga(KDRT), sehingga seorang anak merasakan di-libatkan dalam permasalahan rumah tangga tersebut, bagi seorang anak, itu adalah permasalahan yang sering di libatkan dalam permasalahan kekerasan dalam rumah tangga ini, dan inilah kasus yang sering terjadi, dan dari mereka kebanyakan melarikan diri dari rumahnya, kerena mereka tidak tahan telah terjadi kekerasan di dalam rumah tangga yang sering melibatkan lingkungan dan terjadi pada anak, sehingga seorang anak terkena dampaknya. atau pemasalahan ekonomi keluarga, atau berbeda pendapat di dalam rumah tangga, serta permasalahan di luar keluarga.

”Dari sini kami belajar bersama-sama melihat persoalan yang ada di depan mata kami, Setiap hari para pemuda kota ini selalu berkumpul, setelah mereka lelah bekerja dalam-kesehariannya melakukan aktifitas”

Di sela-sela istirahat kami sering memperdebatkan situasi yang kami alami dalam dunia jalanan, ternyata masih banyak permasalahan yang sangat pelik dari kenyataan yang di rasakan oleh kami, selaku kaum-urban miskin perkotaan, selain kami yang merasakan ternyata masih ada barisan-barisan pengangguran yang sangat panjang sebab hidup di kota tidaklah mudah, karena persaingan hidup yang sangat kuat serta konflik yang harus di jaga jaraknya. Kami merasakan sebuah proses di jalanan yang mendidik kami maupun terdidik oleh situasi, di mana karakter seseorang harus di uji dari kemampuannya di jalanan seperti kesabaran/kejujuran/optimis, secara sadar atau tidak, gagasan yang berangkat dari diskusi kecil, yang mungkin terkadang di luar dugaan anak jalanan. Kami berkumpul di salah satu stasiun kereta api, atau warung kopi, hingga di kolong-kolong jembatan. Dari secangkir kopi dan sebatang rokok para pemuda-pemudi ini menemukan ide-ide yang sederhana, hingga pada ide-ide yang tak terlalu formal, artinya mereka berangkat dari sebuah kebutuhan-keperluan sebagai manusia-sosial yang sama-sama untuk memiliki HAK-KONSTITUSIONAL, selayaknya sebagai warganegara Indonesia yang Sah secara Hukum, perbincangan ini di lanjutkan sangatlah simpel seperti perbincangan masih banyak rakyat yang miskin, hidup di bawah bendera kemiskinan. Alasannya, pemerintah yang tak sanggup memberantas kemiskinan dan mensejahterakan rakyatnya. dari segi ketidak-mampuan pemerintah untuk memberi pendidikan dan kehidupan yang layak dan berkualitas, dari sini kami mendapatkan bahan-bahan perbincangan yang menjadi diskusi rutin dan mengkritiskan kebijakan pemerintah agar masyarakat harus diberi Hak-Hak-nya sebagai warganegara indonesia, terkadang inipun menjadi tuntutan kami, segeralah pemerintah harus menjamin kesejahteraan hidup masyarakat miskin, proses ini harus di gunakan, karena dia adalah salah satu pondasi-demokrasi di negeri ini, agar menjaga hubungan Pemuda/Pemudi yang tertinggal dari Pendidikan-nya, atau dari segala macam latar belakangnya, maka akan menyadari permasalahan yang di rasakan di sekitarnya untuk melakukan perubahan secara evolusioner, diantaranya mereka yang bertahan di jalanan. Maka mereka akan membantu semua persoalan yang terjadi di lingkungan antara dunia anak-jalanan/remaja, serta generasi penerus yang akan membuka ranah pendidikan alternatif atau lapangan kerja alternatif bagi anak-anak jalanan/Remaja, maupun masyarakat di sekelilingnya. Jika itu terpenuhi maka batas-batas ruang sosial tidak akan terjadi di antara Kaum-Miskin dan Kaum-Kaya, kerena kita bisa menyadari dan di anugrahi perbedaan sebagai permersatu diantaranya kami Anak jalanan/remaja yang tetap di jalanan, mereka sebagai pemeran di lingkungannya akan menyadari semua ini. Sehingga tidak ada lagi anak-anak jalanan yang bertahan di jalanan, kami hanya berharap agar semuanya terjamin oleh pemerintah sebab dalam permasalahan ini, pemerintah harus bertanggung jawab walaupun ada lembaga-lembaga pemerintah yang menaungi permasalahan kesejahteraan Sosial-masyarakat. Tetap saja tidak sanggup untuk menjawab pemiskinan yang ada.


”Ruang ranah sosial yang kami rasakan di lingkungan masyarakat miskin urban”

di sini kami sulit untuk mendapatkan AKSES kesejahteraan, kerena sulitnya keterbatasan dan status ruang yang slalu kami rasakan, kerena sebuah kesejahteraan serta batas-batas yang di mana semuanya adalah STIGMA-ANJAL(streotip), kami slalu medapat tekanan-tekanan atau yang di berikan oleh kami dari pemerintah setempat(Black-Lis), di sini kami slalu mencoba memecahkan sebuah masalah yaitu adalah ruang masyarakat arus bawah untuk mendapatkan sebuah ruang akses keadilan sosial, tapi di sini sangatlah lebih jelas yang kita lihat begitu mencoloknya dimana yang kami rasakan dari Hak-hak warga negara indonesia kami terabaikan. Jika kita lihat dari populasi masyarakat indonesia yang begitu besar rotasinya, di sini pasti memiliki segudang permasalahan sosial. Contoh: sebuah kesejahteraan, serta meningkatnya masyarakat miskin yang cendrung melakukan urbanisasi dari kota, ke-kota besar di indonesia, seperti salah satunya urbanisasi yang paling besar adalah di jakarta, dari kian meningkatnya kaum pekerja yang belum tentu mendapatkan akses lowongan, atau memang bukan suatu kesempatan, ruang-ruang seperti inilah menjadi suatu persaingan yang begitu pesat bagi yang berkepentingan untuk bertahan atau dengan niat ingin menafkahi keluarganya di kampung, tetapi apa-adanya dengan segala keterbatasan yang di dapat menjadi kendala di masyarakat. Ketika kesulitan yang di alaminya adalah ruang untuk menemukan alat produksinya, entah seperti apa mereka yang berkerja, dan cara-cara mereka untuk bertahan, atau dengan cara-cara mereka membuka ruang kerja alternatif, tetapi di sini nampak jelas di mana hidupnya sebuah peraturan-peraturan yang berlaku untuk keamanan dan ketertiban bagi masyarakat, sangatlah jelas, sebab Penggusuran-penggusuran kian bringas dengan sistem yang terorganisir dan kebijakan Ambivalen pemerintah untuk berpihak pada Aspirasi-aspirasi dari masyarakat, ini adalah batas-batas yang menjadi momok di masyarakat sebab peraturan tersebut hanya berlaku bagi yang miskin dan lemah serta di bodohi oleh situasi pemiskinan yang di alaminya, dengan situasi yang seperti ini masyarakatpun terdidik dengan kenyataannya


C.sikap

V i s i:
Kami berusaha untuk mendorong kreatifitas Anak/Remaja di jalanan sesuai kemampuan yang mereka miliki, dengan harapan ketika mereka kembali pada lingkungan masyarakat mereka sudah Siap” untuk menjalin kerja sama.

Misi:
• SALUD hanya menjadi Wahana Kebebasan Untuk berekspresi dan bermaksud mendukung Cita-cita Anak-remaja di jalanan agar tidak patah Arang (patah semangat).
• Mendorong mereka, agar memiliki keterampilan yang sesuai kemampuan di masing-masing anak, yang kelak cita-cita bagi anak-jalanan agar mampu mengembangkan pendidikan alternatif yang bisa mereka dapatkan.
• Meningkatkan kualitas/kuantitas Anak-remaja yang kurang beruntung melalui proses Pendidikan/Solidaritas/berorganisasi/berserikat/Hak-untuk bebas berpendapat di muka umum
• berjuang untuk keadilan sosial masyarakat miskin



Yang lebih istimewa dari SALUD
1. Menggalang SOLIDARITAS
SALUD mencoba membangun SOLIDARITAS di antara Anak-Remaja, SALUD mencoba bekerja keras melakukan hubungan di antara kami dan Anak-jalanan /remaja,dan masyarakat dari segala kegiatan yang positif dan lebih efektif.

2. Menghargai Aspirasi Anak-Remaja
SALUD berusaha keras agar kami dan Anak-remaja punya jaringan kerja antar komunitas-komunitas dan kelak mereka berani tampil dan bersuara di depan publik dan mendorong Opini Anak-remaja untuk memiliki kesempatan agar terdengar suara-suara Anak- pinggiran serta mereka bebas untuk berekspresi dan berani meminta tanggung jawab negara.

3. Menggapai Cita-Cita,Merajut Masa Depan
SALUD berkerja keras dari titik NOL hingga memiliki jaringan kerja antar komunitas-komunitas, selama kami lahir dari tahun-1997 kami tak memiliki seketariat tetapi sungguh aneh dan sangat luar biasa, bahkan kami terkejut bisa bertahan dan berkonsentrasi hingga saat ini?.

4. Membangun Dan Berkerja Keras
SALUD mencoba membangun kesadaran bersama-sama, apa-apa saja harapan untuk keadilan di jalanan bila” tidak mungkin terjadi,menjadi sesuatu-Hal yang mungkin tejadi, bila semuanya di kerjakan bersama-sama.
Kami mencoba untuk belajar mendengar aspirasi-aspirasi dari masyarakat

MOTO:kami tak akan pernah rela duduk terdiam selagi masih ada penindasan dan ketidak adilan bagi kaum-kaum kecil

KOMUNITAS
SALUD terdiri dari beberapa tempat yang kami bagi dua sehingga untuk mengontrol komunitas sangatlah mudah, yaitu di antaranya wilayah:
1. JAKARTA (sekitarnya)
2. JAWA BARAT (sekitarnya)

AKTIFIVITAS SALUD:
• Diskusi (dengan tempat ruang seadanya)
• Kampanye Hak-EKOSOB (dengan tempat ruang seadanya)
• Advokasi kasus (pembentukan TIM-kerja)
• Kampanye HAM (dengan tempat ruang seadanya)
• Newsletter (seadanya)
• Bedah film (dengan ruang seadanya)
• Latihan dasar organisasi (dengan peminjaman tempat)
WORKSHOP:
• Nyablon (dengan alat seadanya)
• Musik (dengan alat seadanya)
• Film (dengan alat seadanya)
• Fotografi (dengan jeringan)
• Krajinan tangan (dengan alat seadanya)
• Puisi (dengan sederhana)
• Tiather (dengan ruang tempat seadanya)
• Jurnalistik (dengan jaringan)
• Komputer(dengan seadanya)

D.STRUKTUR ORGANISASI SALUD:

Ketua Umum :Taufik Hidayah.Ambran) (Jakarta)
Wakil :Heru (Jawa Barat)
Seketaris :Eka (Jawa Barat)

Ketua Basis:
1.Ragil. (Jakarta utara)
2.Kiki (Jakarta pusat)
3.Danar (Jakarta timur)
4.Agus (Jakarta selatan)
5.Ogun (Jawa barat) Pal-Depok-Bogor-Juanda
6.Dewan (Bogor)
7.Tongat (Jawa barat) Bandung.
8.adenk.coffee (jakarta)

E.KEBUTUHAN ORGANISASI

Sebuah organisasi,selayaknya SALUD, hampir seluruh kegiatannya tidak bisa di lepaskan dari cita-cita yang menerima aspirasi anggota-anggotanya serta sebuah kebutuhan dasar sebuah organisasi untuk merumuskan Strategi-Taktik sekedar untuk konsolidasi, Shering, Curhat, dan pelaporan anggota/komunitas, rapat rutin, dan segala macam kegiatan organisasi, dan terlebih pusat pada radikalisasi gerakan kaum miskin. Maka dalam hal ini kebutuhan akan sebuah tempat bernaung dalam hal keseketariatan menjadi cita-cita kami selama 12-tahun adalah keniscayaan. Sesuai kebutuhan organisasi setiap kader SALUD merasakan benar akan hal ini. Tidak adanya alat pendukung yang bisa mempercepat Aksi-Reaksi organisasi agar lebih mudah untuk bergerak dan bersatu dengan gerakan lainnya yang lebih pentingnya adalah Informasi yang berkembang dengan situasi saat ini sangatlah penting, semangat kerja yang tinggi akan sadar dengan sebuah proyeksinya yang sudah di agendakan lagi-lagi kami harus terbentur dengan persoalan-persoalan yang Teknis, tetapi itulah situasi yang harus kami terima dengan kesadaran dan keikhlasan yang mendalam.tanpa seketariat sebagai sentral konsolidasi/informasi, inilah semuanya yang begitu memiliki arti penting dalam mengdokumentasikan segala kegiatan SALUD, disinilah kemudian arti pentingnya PROPOSAL ini di buat agar di maksudkan mampu menjadi pegangan bagi siapa saja yang hendak bersolidaritas untuk kelancaran kegiatan yang kami kerjakan bersama rakyat,sehingga dapat kami gunakan dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan oprasional organisasi sebagai telah di sebutkan di atas Proposal ini.